Kata Siapa Cinta Tidak Bisa Dipaksakan? Peneliti Membuktikan Sebaliknya
Admin3 Desember 2020
[caption id="attachment_4501" align="aligncenter" width="670"]
Kata Siapa Cinta Tidak Bisa Dipaksakan? Peneliti Membuktikan Sebaliknya[/caption]
Lxgroup.me - Cinta Tidak Bisa Dipaksakan?. Bagi seseorang yang bijak dalam menyikapi asmara pasti akan menyertakan setiap tindakan dengan logika. Namun, kita semua pastinya sepakat jika cinta pada akhirnya adalah urusan hati. Hal yang tak bisa dipaksa kapan datang dan pergi dengan sesuka hati, tak bisa memerintah untuk memilih seseorang sesuai dengan akal sehat kita. Benarkah demikian?
Peneliti : Hati bisa dipengaruhi dengan pikiran
Dalam studi psikologi Regulation of Romantic Love Feelings, berpendapat jika hati bisa dipengaruhi oleh pikiran kita. Namun semuanya tergantung dengan apa yang sedang dipikirkan. Setiap orang bisa meningkatkan kadar cinta mereka untuk seseorang bahkan menguranginya. Hal ini biasa disebut dengan Regulasi Cinta menurut psikolog.
Hati bisa ditipu untuk mematikan atau mencintai rasa dengan lebih[/caption]
Dalam percobaan kedua, hasil dari penelitian tersebut pun kurang lebih sama. 50 persen orang yang sedang menjalani komitmen dan sebagian baru saja mengakhiri hubungan asmaranya diminta untuk mengisi kuesioner serupa. Sambil memantau gelombang otak mereka dan memandangi foto pasangan dan mantan pasangan masing-masing tiap peserta. Mereka diminta untuk berfikir tentang hal positif dan negatif berkaitan dengan masa depan bersama pasangan dan mantan pasangan mereka.
Ketika para peserta berfikir positif lebih mudah bagi mereka untuk mengatur rasa cinta mereka kepada pasangannya. Hal ini membuat mereka justru lebih dekat dengan pasangannya. Namun, disisi lain pikiran negatif membuat mereka memiliki perasaan cinta jauh lebih sulit dikendalikan hingga akhirnya mengurangi kedekatan emosional dan perasaan tergila-gila kepada pasangan mereka masing-masing.
Penelitian ini membuktikan jika pada dasarnya manusia memiliki daya kontrol lebih untuk perasaan cinta yang dirasakan, daripada apa yang mereka pikirkan. Namun, seringnya kita tidak mau mencoba untuk mengendalikan perasaan itu dan lebih memilih untul melakukannya karena merasa mampu. Dengan selalu berfikir positif mengenai perasaan, kita bisa menghidupkan kembali rasa cinta yang mati dan rapuh kembali romansa. Hal ini juga bisa memanipulasi hati untuk melupakan seseorang jauh lebih cepat dengan hanya memikirkan hal negatif tentang pasangan kita.
Namun, psikolog masih belum berani mengatakan jika cinta bisa dikendalikan sepenuhnya oleh kepala. Namun, setidaknya manusia bisa membuat atau membentuk dan mempengaruhi emosi ini dengan pola pemikiran saja.
Baca juga : Info seputar bola dunia
Kata Siapa Cinta Tidak Bisa Dipaksakan? Peneliti Membuktikan Sebaliknya[/caption]
Lxgroup.me - Cinta Tidak Bisa Dipaksakan?. Bagi seseorang yang bijak dalam menyikapi asmara pasti akan menyertakan setiap tindakan dengan logika. Namun, kita semua pastinya sepakat jika cinta pada akhirnya adalah urusan hati. Hal yang tak bisa dipaksa kapan datang dan pergi dengan sesuka hati, tak bisa memerintah untuk memilih seseorang sesuai dengan akal sehat kita. Benarkah demikian?
Peneliti : Hati bisa dipengaruhi dengan pikiran
Dalam studi psikologi Regulation of Romantic Love Feelings, berpendapat jika hati bisa dipengaruhi oleh pikiran kita. Namun semuanya tergantung dengan apa yang sedang dipikirkan. Setiap orang bisa meningkatkan kadar cinta mereka untuk seseorang bahkan menguranginya. Hal ini biasa disebut dengan Regulasi Cinta menurut psikolog.
Dalam percobaan pertama, para partisipan yang berada dalam hubungan romantis diminta untuk mengisi kuesioner mengenai apa yang mereka rasakan dengan hubungan yang sedang mereka jalani. Pertanyaan yang diajukan seperti, " cinta itu tidak dapat dipaksakan atau dikendalikan ", dan " setiap orang bisa saja mengontrol seberapa terikatnya mereka dengan seseorang tersebut ", dengan skala penilaian dari angka 1 hingga 9.
Dari data kuesioner yang dikumpulkan mengungkapkan jka sebagian besar perserta berfikir bahwa mereka bisa mengendalikan perasaan dengan lebih efektif ketika mereka merasa lebih dekat dengan pasangan mereka secara emosional, bukan hanya sekedar tergila-gila saja. Baca juga : Demi Beli Hp untuk Sekolah Online, Anak Ini Rela Menjual Ayam Kesayangannya [caption id="attachment_4502" align="aligncenter" width="670"]
Hati bisa ditipu untuk mematikan atau mencintai rasa dengan lebih[/caption]
Dalam percobaan kedua, hasil dari penelitian tersebut pun kurang lebih sama. 50 persen orang yang sedang menjalani komitmen dan sebagian baru saja mengakhiri hubungan asmaranya diminta untuk mengisi kuesioner serupa. Sambil memantau gelombang otak mereka dan memandangi foto pasangan dan mantan pasangan masing-masing tiap peserta. Mereka diminta untuk berfikir tentang hal positif dan negatif berkaitan dengan masa depan bersama pasangan dan mantan pasangan mereka.
Ketika para peserta berfikir positif lebih mudah bagi mereka untuk mengatur rasa cinta mereka kepada pasangannya. Hal ini membuat mereka justru lebih dekat dengan pasangannya. Namun, disisi lain pikiran negatif membuat mereka memiliki perasaan cinta jauh lebih sulit dikendalikan hingga akhirnya mengurangi kedekatan emosional dan perasaan tergila-gila kepada pasangan mereka masing-masing.
Penelitian ini membuktikan jika pada dasarnya manusia memiliki daya kontrol lebih untuk perasaan cinta yang dirasakan, daripada apa yang mereka pikirkan. Namun, seringnya kita tidak mau mencoba untuk mengendalikan perasaan itu dan lebih memilih untul melakukannya karena merasa mampu. Dengan selalu berfikir positif mengenai perasaan, kita bisa menghidupkan kembali rasa cinta yang mati dan rapuh kembali romansa. Hal ini juga bisa memanipulasi hati untuk melupakan seseorang jauh lebih cepat dengan hanya memikirkan hal negatif tentang pasangan kita.
Namun, psikolog masih belum berani mengatakan jika cinta bisa dikendalikan sepenuhnya oleh kepala. Namun, setidaknya manusia bisa membuat atau membentuk dan mempengaruhi emosi ini dengan pola pemikiran saja.
Baca juga : Info seputar bola dunia